Populasi
Populasi
adalah totalitas semua nilai yang mungkin, baik hasil menghitung maupun
mengukur, kualitatif maupun kuantitatif, daripada karakteristik tertentu
mengenai sekumpulan objek yang lengkap dan jelas. (Sudjana,1992:161).
Sedangkan
menurut Arikunto (1998:115) menyatakan bahwa populasi adalah keseluruhan subyek
penelitian. Jadi populasi adalah keseluruhan subyek penelitian yang berupa data
kuantitatif maupun kualitatif dari hasil mengukur dan menghitung.
Sejak
awal peneliti harus menentukan populasi penelitiannya. Karena itu ia harus
mendefinisikan populasi agar orang mengetahui kemana hasil penelitian tersebut
dapat digeneralisasikan. Populasi terdiri dari populasi teoretis dan populasi
terjangkau. Populasi teoretis adalah semua subjek baik yang secara langsung
maupun tidak langsung akan diteliti dan kemana hasil penelitian dapat
digeneralisasikan. Populasi terjangkau adalah semua subyek yang (bila perlu)
dapat dijangkau secara langsung.
Sampel
Karena
populasi biasanya terlalu banyak untuk diteliti maka peneliti dapat
menggunakan sebagian saja dari populasi. Sudah barang tentu sampel tersebut
harus dapat mewakili populasi. Peneliti dapat menggunakan teknik statistik
untuk mengetahui apakah sampel yang digunakan representatif atau tidak. Dalam
kaitan dengan itu, penentuan sampel dari suatu studi sampling pada hakikatnya
selalu mengandung resiko kesalahan (sampling error), karena generalisasi dari
sampel ke populasi selalu mengandung resiko bahwa terdapat kekelituan atau
ketidak tepatan, karena sampel tidak mungkin mencerminkan secara persis keadaan
populasi. Makin besar ketidaksamaan sampel dengan populasi, maka makin besar
pula kemungkinan kekeliruan dalam generalisasi. Maka dari itu masalah
representatifnya sampel sangat perlu dicermati. Sehubungan dengan itu ada
beberapa teknik penentuan sampel, yang pada dasarnya menjadi dua gugus yaitu :
sampling probabilitas (probability
sampling) dan sampling nonprobabilitas (nonprobability sampling). Dari masing-masing
gugus tersebut telah diciptakan berbagai teknik lagi, yang sangat memungkinkan
peneliti memilih sesuai dengan keperluan. Untuk mendukung penggunaan dari
berbagai teknik itu, dalam rangka mempertinggi tingkat representativeness sampel,
sangat perlu dipertimbangkan beberapa hal yaitu : variabilitas populasi, besarnya sampel, teknik penentuan
sampel, dan kecermatan memasukkan ciri-ciri populasi. Mengingat
adanya keterbatasan yang dimiliki peneliti, dapat terjadi ketidak sempurnaan
pemenuhan keempat hal di atas, sehingga kesalahan sampling hampir selalu ada. Maka
dari itu muncul kebutuhan untuk memperhitungan atau setidak-tidaknya
memperkirakan besar kecilnya kekeliruan tersebut, yang biasa disebut dengan
analisis kekeliruan atau simbangan
baku estimasi dari distribusi sampling. Salah baku estimasi dapat
dianggap estimator yang baik (di
bawah pengendalian) bila distribusi sampling statistiknya merupakan
distribusi normal. Distribusi sampling statistik akan normal jika distribusi
skor dalam populasinya merupakan distribusi normal dan sampel diambil secara
rambang. Akan tetapi, distribusi suatu statistik akan mendekati distribusi
normal, tidak peduli bentuk distribusi populasinya normal atau tidak asal
sampel penelitiannya cukup besar.
Mengenai gugus sampling seperti yang disinggung
di atas, dijabarkan dalam beberapa teknik, dan untuk pengambilan sampel
peneliti memilih teknik yang tepat. Teknik tersebut ada yang didasarkan atas
probabilitas ada pula yang didasarkan atas nonprobabilitas (nonprobability
sampling). Probabilitas sampling (probability sampling) terdiri dari : (1)
rambang sederhana (simple random sampling; (2) rambang strata (stratified
random sampling); (3) kluster (cluster sampling). Nonprobabilitas sampling
(nonprobability sampling) terdiri dari : (1) purposif sampling (purposive
sampling); (2) kuota sampling (quota sampling); (3) eksidental sampling
(Accidental sampling).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar